Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

Shalatku Shalat Apa?




Sebenarnya…
Shalatku shalat apa?
Masih berani maksiat saja
Dosa dilakukan seolah tak berdosa
Suudzon, Ghibah, Ujub tak ada habisnya
Quran sekedar bacaan saja
Hidup seakan selamanya

Sebenarnya,
Shalatku shalat apa?
Belum bisa menentramkan jiwa
Was-was, Takut, Gelisah menghantui sukma
Yang sayangnya
Hanya menggelisahkan soal dunia

Yaa Allah…
Sesungguhnya amalan yang pertama ditanyakan dalam kubur adalah shalat
Bagaimana aku harus berhujjah dihadapanMu nanti?
Apa yang kulakukan dalam shalat-shalatku selama ini?
Sudah sahkan wudhuku?
Sucikah pakaianku?
Yakinkah niatku karenaMu?

Karenanya…
Wahai Yang Maha Pengasih dan Tak Pilih Kasih
Lembutkanlah hatiku dari kerasnya hati
Beri hidayah dalam hati dan jangan pernah melencengkan lagi
Bukalah hatiku seperti futuhnya orang-orang Arif…

إن الصلاة تنهي عن الفحشاء و المنكر...

Sungguh shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar

رب اجعلني مقيم الصلاة و من ذريتي.....

Yaa Allah, jadikan aku dan dzurriyatku termasuk orang- orang yang mendirikan shalat

إن صلاتي و نسكي و محياي و مماتي لله رب العالمين....

Sungguh, shalatku, ibadahku, hidup dan matiku karena Allah, Pangeran seru sekalian alam

Depok, 6 Syawal 1437 H
Orang yang masih, sedang, terus belajar shalat

Hadza Syahr.

Senin, 18 April 2016

MAKAM

MAKAM


tabur bunga kenangan
saputangan perpisahan
doa mengiris kalbu muram
air mata pereda kelam

duhai...
meratapku di puncak gunung
langit malam turut berkabung
kabut indah bergulung- gulung
pada edelwise ku bersenandung
Andai ada engkau...

duhai...
kala indah senja tak terlukiskan
air mata jatuh tak tertahankan
angin sore menerpa perlahan
pada langit jingga ku bisikan
andai ada engkau...



duhai...
debur ombak bernyanyi suram
merenungku di tepian kelam
sendirian hingga disambut malam
pada kilau laut ku bergumam
andai ada engkau...

duhai...
ada yang sengaja berkunjung
ke tempat terindah dan terbaik
untuk memakamkan rindu
agar tercipta kesepian baru

makam rindu,
untukmu yang selalu ku rindu
untukmu yang tak pernah merindu
untukku yang selalu merindu
untukku yang tak pernah dirindu


Jakarta, beberapa hari setelah ulang tahun kita.
andai kau aktifkan WA~
Syahr 'Aasyir min hijriyah (aku mah apa atuh, hanya jd yg ke 10... :')







Selasa, 22 Maret 2016

Malam, Jikustik, Puisi dalam Puisi

Puisi

Pada suatu ketika, aku menemukan sebuah lagu,
 lagu jadul nan merdu.
 Dari jikustik yang sering kudengar saat SMP dahulu.
mengingatkanku, sebuah kisah syahdu...
seonggok kenangan masa lalu,
 dibungkus dalam puisi rindu.


Mungkin semua puisiku dibuang,
mungkin semua puisiku hilang,
mungkin semua puisiku terbang,
oh... puisiku malang

Kau abaikan
membaca pun sungkan
Kau tinggalkan
membalas pun enggan

Ribuan puisi yang ku layangkan
Melayang layang,
Di langit kenangan.

Ah, sudahlah, Wal..
Jangan kau sesali dari awal
Semoga menjadi pelipur
merenungi penuh syukur.

Jakarta, 22 maret 2016,
sedang baper-bapernya, ditemani lagu 'untuk dikenang' jikustik.


Untuk dikenang

Ingat aku, saat kau lewati
Jalan ini, setapak berbatu
Kenang aku, bila kau dengarkan
Lagu ini, terlantun perlahan

Reff:
Barisan puisi ini
Adalah yang aku punya
Mungkin akan kau lupakan
Atau untuk dikenang

Ingat aku bila kau terasing
Dalam gelap keramaian kota

Reff:
Tulisan dariku ini
Mencoba mengabadikan
Mungkin akan kau lupakan
Atau untuk dikenang

Doakanlah aku malam ini
Sebelum kau, mengarungi malam

thanks to: Jikustik, mas Pongky, Malam, Puisi, Kenangan dan kamu 👉





Kamis, 17 Maret 2016

Kopi






KOPI

Pada hujan kali ini,
ada aroma kopi hitam
di hariku yang suram
di hatiku yang muram

Pada hujan kali ini,
ada secangkir kopi hangat
bagai rindu yang tersirat
kian lama kian pekat

Pada hujan kali ini,
ada kopi yang teracuhkan
merasa terabaikan
teronggok kasihan

Pada hujan kali ini,
ampas kopi telah mengering
membekas di tepian piring
seperti kenangan yang berkeping-keping

Duhai...
apalah arti rindu yang kau celupkan
pada secangkir kopi
apalah arti bersama yang kau katakan
di depan secangkir kopi
apalah arti menunggu jika dingin menyelimuti
hangatnya kopi

Pada hujan kali ini,
ada jejakmu yang tertinggal
rindumu yang tercecer
dan cintaku yang mengalir

Hujan hanya membisu
Mengalunkan syair rintik merdu
Untuk engkau yang ku rindu
Kapankah engkau melihatku?

Jakarta, 17 Maret 2016
Untuk hujan dan kopi
yang selalu menginspirasi

by. Syawaliyah Faisal ^^