Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 Agustus 2016
Cerpen: Pria Penikmat Senja
Langit senja hari ini begitu bersih. Awan yang berarak telah pergi tersapu angin sore. Kemilau jingga berkilauan di permukaan air laut nan tenang. Hanya desiran ombak yang memecah lamunan kala itu. Seperti biasa, aku menunggu sunset. Menikmati romantisnya senja sambil berjalan di tepi pantai. Sesekali membetulkan jilbab yang berkibar tertiup angin pantai. Lalu sesekali mengusap air yang membasahi pipi.
"Dek, ayo pulang..." itulah kalimat yang ku dengar jika airmataku sudah turun. Suara itu disusul usapan lembut tangannya di kepalaku. Dia adalah pria yang selalu menemaniku menunggu sunset. Menunggu dengan sabar tanpa bicara apapun. Menikmati langkahku berjalan di tepian pantai. Sampai sunset dan airmataku tenggelam, ia baru mengajak pulang.
♢♢♢♢♢
Tiga bulan yang lalu,
"Kita ngga bisa liat sunset yaa hari ini..." Kataku mengeluh sambil menopang dagu di jendela sebuah rumah makan tak jauh dari pantai. Hujan turun tiba-tiba dengan derasnya saat kami sudah dikit lagi sampai ke pantai. Lagi dan selalu, tangannya mengusap kepalaku dengan lembutnya, sambil tersenyum, dia mengucapkan mantra andalannya,"Syukuri saja, ya...". Dia adalah Hanif, pria yang telah membuat hidupku lebih berwarna. Dia teman kecilku, rumahnya hanya beda satu gang dari rumahku. Sebagai anak pesisir, sudah wajar dari kecil kami suka bermain di pantai. Tak seperti anak pesisir lainnya yang bosan dengan kehidupan pantai dan laut, Hanif malah kian mencintai laut dan pantai. Ia sering memunguti sampah yang ada di pantai. "Biar bersih" katanya sambil tersenyum. Ia jarang berbicara, hanya bicara yang penting2 saja.
Hanif adalah pria penikmat senja. Tiap sore setelah pulang kuliah atau bekerja, ia tak langsung pulang ke rumah. Pernah aku menanyakan kenapa ia sangat menyukai senja, "Karena senja romantis" katanya singkat. Aku menatapnya bingung, meminta penjelasan lanjut."Alam mengajarkan banyak kehidupan. Salah satunya langit senja ini. Dimana ada pertemuan dan perpisahan terjadi dalam satu waktu. Tau siapa mereka, Fis?" Hanif bertanya padaku sambil menatap sunset di depannya. "Matahari dan bulan?" kataku polos. "Benar, Nafis. Matahari yang seharian menerangi bumi akhirnya bersua dengan sang bulan di waktu senja. Hanya sebentar hingga akhirnya mereka berpisah. Menurutmu, siapa yang paling sedih di sini? Matahari atau bulan?" aku langsung menjawab,"Matahari dong, kan dia udah seharian nunggu bulan di siang hari, eehhh malah si bulan munculnya pas matahari mau pergi. Menunggu itu kan menjemukan, kata Anda di AADC, haha" Hanif ikut tertawa kecil. "Nafis... Matahari itu hanya diam di tempat, ia hanya berputar pada porosnya, sedangkan bulan mengitari bumi dan juga berputar pada porosnya. Yang lebih banyak bergerak adalah bulan, kan? tapi yang terlihat bergerak seolah-olah menunggu adalah matahari. Saat berjumpa pun, bulan malah ditinggalkan matahari. Sedihan yang mana?" Hanif bertanya masih dengan senyumnya. "Kalau seperti itu, senjanya diganti menjadi fajar saja, bulannya sudah menunggu semalaman, mataharinya terbit saat bulan mau pergi" Kataku sok menganalisis. "Senja dan fajar berbeda, Nafis. Ingat, menunggu hanya dimiliki orang-orang yang memiliki keyakinan. Kalau kita yakin pada apa yang kita tunggu, tidak perlu cemas dalam menunggu. Akan lebih baik lagi jika kita tak terlihat menunggu, tapi padahal kita sedang menunggu. Seperti bulan saat bertemu matahari di waktu senja, tak terlihat. Jangan menampakkan diri seperti menunggunya bulan di malam hari dan bertemu matahari di waktu fajar. Itulah mengapa senja lebih romantis dibanding fajar, setidaknya, itu menurutku" lagi-lagi Hanif tersenyum. Jawaban tentang mengapa ia menyukai senja membuatku kian terkagum padanya, sekaligus, itu penjelasan terpanjang yang baru ku dengar selama ia berbicara.
Kembali ke rumah makan tempat kami berteduh dari hujan. Hanif adalah pria sederhana dengan hati kayanya. Kenapa hatinya bisa kaya? karena ia selalu mensyukuri kehidupannya. Tandas pula hatiku padanya dengan segala kelebihan yang ia punya. Ia sangat pintar saat di sekolah. Itulah kenapa sekarang ia bisa berkuliah di Universitas Negri dengan dibiayai beasiswa full. Sambil sesekali bekerja disela-sela sibuk kuliahnya. "Nafis, malah bengong." katanya membuyarkan lamunanku. Ia menyodorkan teh hangat ke mejaku, dan ia sendiri menaruh kopi di mejanya. Aroma teh melati dan kopi hitam campur menjadi satu. Aroma yang selalu kami nikmati bersama. Hanif tau aku tak suka kopi, lambung tak kuat itu bukanlah mitos semata, akulah yang selalu merasakannya sehabis minum kopi. Kami meneguk minuman hangat di depan meja masing-masing. Perasaan hangat ini, tentu hanya kami yang tau. Perasaan saling mencintai sejak dulu. Perasaan yang selalu sampai lewat secangkir teh dan kopi. Setelah meminum sedikit, aku dan hanif tersenyum. Kemudian saling bilang "terimakasih". Tentu saja selalu dia yang pertama bilang "Terimakasih". Ia bilang, "Terimakasih karena selalu menemani kopiku". Sedangkan aku berterimakasih karena Hanif sudah pengertian walau tidak bisa sama-sama ngopi. :D
"Selalu ada pengganti sunset yang lebih baik."Katanya. Itulah kata-kata yang sering dia ucapkan saat tidak bisa menikmati senja. Entah itu karena hujan, tugas kuliah ataupun kerjaan mendesak yang membuatnya harus rela meninggalkan senja. "Melihat senja itu nikmat, melihat sunset itu nikmat plusnya"Hanif masih memandang hujan, langit mendung masih sedikit menyiratkan warna-warna jingga.
Aku masih sibuk menghirup sedikit-sedikit tehku sebelum akhirnya aku melihat sesuatu yang ganjil. Ada air yang mengalir di kedua pipi Hanif. Sepertinya Hanif menyadari aku tau ia menangis, langsung dihapusnya cepat2 air dikedua pipinya. "Kamu kenapa?" tanyaku heran. Ia mengeluarkan selembar kertas padaku. Surat tentang terpilihnya menjadi relawan ke Afghanistan. Aku ingat saat kecil ia bercerita ingin menjadi relawan di daerah konflik, khususnya Timur Tengah. Ia bilang, di sana jarang laut, ia sangat ingin bercerita pada orang-orang di sana tentang indahnya sunset. Tentu saja ku kira itu hanya cerita anak belaka. Tak ku sangka diam-diam ia mewujudkannya. Lalu kenapa sekarang ia malah menangis? aku menanyakannya lagi kenapa ia menangis, ia hanya tersenyum dan bilang "Sepertinya, aku tidak akan melihat sunset untuk waktu yang lama". Aku hanya tertawa dan menepuk pundaknya. Aku menghiburnya bahwa sunset tidak akan pernah pergi. Sedangkan kesempatan mewujudkan cita-cita tidak pernah datang dua kali. Seperti biasa ia hanya tersenyum sambil mengusap kepalaku.
♡♡♡♡♡
Siapa yang mengira kalau pesawat yang ditumpangi Hanif terjatuh di perairan laut jawa. Tak ada yang mengira perpisahan di Bandara Adi Sucipto kala itu menjadi yang terakhir kali aku melihatnya. Bebetapa korban ditemukan dalam kondisi menjadi jenazah semua. Namun tak ada Hanif diantara jenazah-jenazah itu. Hingga akhirnya tim SAR menghentikan pencarian korban pesawat setelah beberapa bulan. Tak sedikit korban yang hilang, tak ditemukan, termasuk Hanif.
Tiga bulan berlalu, setelah kepergian Hanif, aku masih rutin mengunjungi pantai saat senja. Baru ku pahami benar kalau senja, saat pertemuan matahari dan bulan, hanya bersifat sementara. Begitu pula kehidupan di dunia. Hanya sementara belaka, jika sudah waktunya, mautlah yang memisahkannya. Kian deras airmataku saat matahari mulai tak terlihat di ufuk timur. Dan pria yang saat ini selalu menemani senjaku, dialah Hamdani. Teman masa kecil juga, tapi dia kaka kelas. Dia mencintaiku juga dari kecil, tapi ia tau kepada siapa hatiku berharap, pada Hanif. Maka dengan besar hati ia hanya bisa melihat yang dicintainya bersama yang dicintainya. Setelah kepergian Hanif, ia datang. Ia berusaha menjadi seperti Hanif, mengusap kepalaku sambil tersenyum, menemani tiap senja, sedikit bicara, memunguti sampah di pantai, membuatkanku teh dan kopi untuknya. Awalnya, semua itu membuatku kian mengingat Hanif. Sering aku menangis saat Hamdani melakukan "ke-Hanif-annya" di depanku. Tapi ia segera tetap seperti Hanif. Sudah tiga bulan berlalu, dan aku mulai menerimanya. Aku sudah mulai tersenyum, bahkan tertawa saat bersamanya.
♤♤♤♤♤
Setahun kemudian,
"Mas, lihaat ini!" Kataku girang sambil menyerahkan hape ke Hamdani. Tertulis namaku sebagai observer kebudayaan di daerah Kalimantan. "Wah... akhirnya lolos juga kamu, Dek" Hamdani tersenyum riang. Proposal skripsi kebudayaan yang ku garap tak kuduga akan lolos di pusat penelitian kampus. Untuk dua minggu ke depan aku akan ke Kalimantan sebagai observer dengan beberapa mahasiswa lainnya. Aku teringat Hanif lagi, beginikah rasanya jika impian yang kau idamkan ternyata terwujud?
Sebulan kemudian aku berangkat ke Kalimantan. Sekujur tubuhku keringat dingin. Bukan karena baru pertama kali naik pesawat, terlebih karena aku jadi entah kenapa teringat Hanif. Bandara ini adalah tempatku terakhir kalinya melihat Hanif. Hamdani sangat tau apa yang menjadi pikiranku. "Allah bersamamu" katanya tenang. Sekejap aku menjadi tenang. Kemudian ia memberiku gantungan kunci berlafadz Allah, yang ku tau itu pemberian temannya dari Makkah. "Biar inget Allah terus" katanya. Segera ku baca ulang doa2 bepergian agar selamat. Dan benar saja, akhirnya aku sampai di Kalimantan dengan selamat.
Disana sudah ada tim dari kampus yang menunggu kami. Kami segera dibawa ke gedung pusat penelitian untuk setelahnya ke tempat penelitian di Pulau Karimata. Gefung Pusat Penelitian ini di pesisir pinggiran kota Pontianak. Pesisir lagi, batinku. Tiba-tiba kudengar suara "Syukuri saja, ya...". Aku terhenyak, melihat sekeliling. Hanya ada teman-temanku sibuk membawa koper. Segera ku tepis semua ingatan Hanif. Aku hanya akan meneliti disini dua minggu. Fokus, Nafis! gentakku dalam hati.
Keesokan harinya, kami bersiap-siap ke tempat objek penelitian. Setelah berkemas, bersiaplah kami menuju Pulau Karimata. Briefing, tata krama, adat istiadat, budaya kami pelajari terlebih dahulu. Tak sia-sia mencari referensi sampai ke perpus kota demi tahu daerah ini. Yang ada dibenak saat ini hanya skripsi terbaik. Ah, apa sih yang kupikirkan. Skripsi selesai saja sudah cukup untuk saat ini. Batinku tertawa.
Setelah 3 jam terapung-apung di atas kapal, karena aku mabuk laut, tidak ada yang dapat kunikmati selama perjalanan di atas laut. Untunglah teman-temanku sabar menghadapi teman ringkihnya ini. Segera tidurlah aku saat sampai di Homestay.
♧♧♧♧♧
Jam menunjuk pukul 4 sore. Homestay sepi, mungkin yang lain sedang memperkenalkan diri ke penduduk sekitar untuk beradaptasi. Aku segera shalat dan mandi, setelah itu aku makan. Yang lain masih belum datang. Aku keluar homestay untuk melihat sekitar. Beberapa anak kecil sedang bermain menatapku dengan aneh. Aku menghampiri mereka sambil tersenyum. "Hai adik-adik... lagi ngapain?"sapaku. Mereka berbisik-bisik namun masih terdengar, mereka memakai bahasa kalimantan. "Kenalin ya, kaka sekarang tinggal di situ, kakak mau belajar di sini sama kalian" aku merayu mereka lagi supaya tidak takut padaku. Mata mereka perlahan mulai tertarik, kemudian aku mulai bercerita tentang banyak hal. Mereka mulai tertawa, menimpali walau masih agak kaku berbahasa indonesia. Kemudian salah seorang anak mengajakku ke rumahnya. Tentu saja aku tak menolaknya.
Rumah anak tersebut dipinggir pantai, waktu menunjukkan pukul 05:10, senja mulai temaram. Keindahan alam di depanku tak terelakkan, mungkin karena beda tempat. Biasa melihat senja dan sunset di satu tempat ternyata membuatku melupakan banyak hal. Termasuk sunset di tempat lain. Seorang kakek tua keluar dari dalam rumah sambil membawa jala. Ia ramah menyambutku. "ini, kata cucu saya, ada orang yang ngomong pake bahasa Indonesia lagi, saya disuruh ngomong sama mbanya, hehehe" Kata si kakek sambil terkekeh. Aku ikut tertawa mengusap kepala si anak. "Iya ya, kok kakek lancar ya bahasa Indonesianya, biasanya malah orang yang tua yang agak susah pakai bahasa Indonesia, kek" kataku iseng bertanya. "Si Edang Janu itu yang ngajarin pakai bahasa Indonesia, pintar juga dia nangkap ikannya". kata si kakek, tanpa memperkenalkan Edang Janu. Aku mengangguk saja sambil tersenyum. "Diaa biasanya ada di pinggir sana tuh, lagi duduk, biasanya beli teh sama kopi di warung sini, pinter orangnya." Kakek menunjuk pinggiran pantai. Aku mulai sedikit terhentak. "Iya kak, tiap hari dia disitu, bawa kopi sama teh tapi tehnya ngga pernah diminum" Deg. Jantungku mulai berdegup kencang. "Dulu kan dia hampir mati tenggelam itu dulu di tengah laut, di tolong nelayan di dekat pulau maya." Deg. "Untung masih hidup, katanya kecapean renang, dia bilang dari pulau jawa" Deg. "Dia suka liatin matahari tenggelem, sering bilang senja-senja juga, kayanya dia agak gila juga dia kaya lupa ingatan" Deg. Air mataku mulai keluar. Aku langsung pamit kepada kakek dan cucunya yang terheran-heran melihatku menangis sambil berlarian ke sekitar pinggiran pantai. Benarkah? Edang Janu adalah dia? Aku melihat sekeliling, mencari-cari, ada beberapa nelayan yang juga heran melihatku. Aku hanya menyebutkan "Edang Janu?" kemudian mereka segera paham dan menunjuk sebuah saung reyot di samping pohon kelapa. Setelah berterimakasih aku langsung menuju tempat yang disebutkan.
Perlahan aku melongok ke saung itu, tak ada siapapun. Hanya ada secangkir teh dan secangkir kopi yang sudah tinggal setengah. Ini semua mimpi, kan? Airmataku tumpah, bagaimana jika ini semua hanya mimpi? Atau bagaimana jika ternyata Edang Janu bukan dia?
"Menunggu hanya milik orang yang punya keyakinan, bukan?" Bohong.... ini semua bohong kan? Suara di belakangku, kalimat yang sangat tak asing, nada bicara yang sangat ku kenali. Airmataku tumpah semua... ku balikan badan perlahan. Dia hitam, rambutnya gondrong, matanya menyiratkan penderitaan, bukan seperti Hanif. Tapi, senyuman itu... aku tahu pemilik senyum itu. sangat tau. Dia adalah Hanif, tetap Hanif yang dulu. Ia mendekatiku, dan mengusap kepalaku. Senja menyunggingkan senyumnya, Matahari dan bulan berjumpa di waktu yang telah ditentukan, bukan? saat senja.
Jakarta, 20/8/2016
Kamis, 18 Februari 2016
Cerpen: Sandiwara Sabuk Merah
Semester dua ini ku putuskan untuk mengikuti UKM olahraga, silat.
Senior fakultas sebelah yang kemarin demo silat di Auditorium kampus menyihir
hatiku dengan gerakan-gerakan silatnya yang penuh semangat. Indah namun tak
menghilangkan tekhnik beladirinya. Aku dari kecil memang suka silat, jadi
sedikit tahu dengan gerakan-gerakan silat. Saat aku meminta izin ke ibu,
awalnya ia sempat tak mengizinkan karena katanya aku akhir-akhir ini mudah
pusing. Tapi aku tetap bertekat masuk, sampai akhirnya ibu mengizinkan.
Dan sebenarnya juga karena satu hal, si pendemo silat kala itu. Yang
paling menyenangkan adalah melihat wajahnya. Wajah tampan, manis dan sejuk itu
yang membuatku kian terpikat dan semangat masuk silat. Namanya Rayhan, ia
pendiam dan baik. Senior satu tahun diatasku. Entah kenapa rasanya menyenangkan
saja jika ada kak Ray.
Pelatih sudah berkacak pinggang di kejauhan. Aku terlambat latihan
lagi. Aku berlari ke tempat latihan yang sudah di datangi banyak orang. Mereka
sudah selesai hening (pembukaan sebelum silat dimulai) dan straching. Sedangkan
aku dengan buru-buru menaruh tas dan memasang sabuk.
“Zakia, hening dan starching bareng, yuk” kak Ray yang ternyata ada
di belakangku sedang memasang sabuk juga. Sambil malu-malu aku mengangguk pelan.
Bagaimanalah mukaku tidak merah, ia tahu namaku dan kami akan hening dan
starching berdua. Aku tidak menyesal terlambat kali ini. Dan semoga saja besok
terulang lagi, pikiran ngaco ku keluar lagi. Biarlah dimarahi pelatih, asal aku
bisa kian dekat dengan kak Ray. Kami hening dan starching beberapa menit untuk
kemudian pelatih menyuruh kami untuk push up, sit up dan back up karena datang
terlambat.
Di setiap latihan, aku yang masih sabuk putih (dasar satu) mencari
tempat strategis untuk bisa curi-curi pandang ke tempat kak Ray berlatih.
Karena tiap tingkatan latihannya akan di pisah. Jadi, sambil latihan, aku
diam-diam melihat ke tempat latihan sabuk merah. Tak ada yang tahu, dan latihan
ku tetap berjalan mulus. Entah kenapa rasanya menyenangkan sekali melihat kak
Ray bersilat, wajahnya yang berubah serius saat mulai mengeluarkan
tekhnik-tekhnik membuatnya terlihat keren dimataku. Dengar-dengar ia pernah
dilatih oleh pelatih yang professional dan terkenal juga sebelum masuk kuliah.
Tak heranlah jika dia termasuk yang pandai dalam bersilat.
***
“Horeeee…. Sabuk meraaah…” teriak anak-anak seangkatan silatku.
Kami baru saja mengikuti UKT (Ujian Kenaikan Tingkat) dan penguji mengatakan
bahwa kami lulus semua dari sabuk hitam (dasar dua) ke sabuk merah (cakel_calon
keluarga). Setahun sudah aku bergabung di silat ini, tentunya juga berkat
semangat dari kak Ray. Aku tak tahu jika waktu masih dasar satu, saat
masih curi-curi pandang ke kak Ray,
ternyata begitu pun sebaliknya. Kak Ray juga curi-curi pandang ke arahku. Hanya
saja jarang sekali kami tertangkap saling pandang. Pernah sekali-dua kali dan
itupun kami mengira hanya kebetulan saja, padahal kami sedang saling curi-curi
pandang. Sejak naik ke dasar dua, aku sudah tidak bisa lagi curi pandang dengan
kak Ray karena tempat latihannya benar-benar terpisahkan oleh tembok.
Tapi sejak kami terhalang tembok, kak Ray yang pendiam itu mulai
sering tersenyum dan menyapaku. Kadang kami bercanda dengan teman silat
lainnya, tapi pandangan kami saling menatap satu sama lain. Hingga akhirnya
kami tahu sebenarnya kami saling suka. Namun kak Ray tetap diam, ia tak
menyatakannya.
Aku mulai penasaran, iseng-iseng cari informasi dari seniorku.
Ternyata kak Ray belum punya pacar. tapi, sedikit kisah sedih mewarnai masa
lalunya. Kak Ray pernah menyukai seorang gadis, tapi gadis itu sudah meninggal.
Kejadian itu sudah terjadi dua setengah tahun yang lalu. Jadi tidak banyak yang
tahu tentang gadis itu. Mungkinkah kak Ray masih mencintai gadis itu hingga
kini sulit untuk membuka hati pada gadis lain? Entahlah, aku kini hanya
menjalani seperti biasanya saja. Walau tak dapat dipungkiri aku ingin kak Ray
menjadi yang special di kehidupanku.
Seiring berjalannya waktu, semakin aku kenal pula dengan pribadi
kak Ray. Aku benar-benar mengaguminya, kak Ray pun kian hebat dalam silatnya.
Namun sikap pendiamnya juga kian hebat seperti biasanya. Kami belum pernah
berbicara langsung lebih dari tiga menit, itu pun bicara ala kadarnya. Kami
saling diam saat bertemu. Saat berpisah ingin bertemu, saat bertemu malah ingin
segera pergi darinya karena tak tahan lama-lama merasakan debaran jantung nan
kencang itu, itulah ajaibnya orang mencintai.
***
Semester enam sudah ku jalani perkuliahan, sudah dua setengah tahun
pula aku menggeluti dunia persilatan yang kian menyenangkan ini. Dalam hati
terkecil jujur saja masih karena adanya kak Ray. Aku makin menyayangi pria
pendiam itu, walaupun ia tak menyatakan apapun hingga saat ini. Kini kak Ray
sudah semester delapan. Dan sebentar lagi pun lulus. sedikit terbesit kecewa
dihati, namun mau bagaimana lagi. Aku tak bisa apa-apa. Hanya mengaguminya
dalam diam selama dua setengah tahun ini. Hingga pada suatu hari, aku melihat
kak Ray sedang duduk di dekat taman kampus seusai latihan. Senja saat itu
sangat indah, kampus sudah mulai sepi, aroma angin sore menggodaku untuk
menikmatinya bersama pria yang dari dulu ku kagumi itu. Aku beranikan diri
untuk mendekat.
“Kak Rayhan…..” sapaku lembut.
“Ooooh… kamu Zak…” kata kak Ray yang terlihat kaget sambil mengusap
pipinya. Berusaha menyembunyikan air yang keluar dari matanya. Ia menangis? Aku
kaget juga dengan pemandangn di depanku saat ini. Kak Ray yang pendiam, ramah
dan semangat kini terlihat sedih, matanya merah. Aku hanya terpatung dibuatnya,
tidak tahu harus apa.
“Kamu belum pulang? Nanti kemalaman loh, mau ku antar?” kak Ray
berusaha mencairkan suasana setelah kesedihannya itu. Namun sia-sia, semakin
aku menatapnya, ia makin berkaca-kaca.
Aku kian diam, entah kenapa melihat orang yang mungkin sudah ku
sayang menangis begini, air mataku ikut keluar. Malah rasanya aku yang lebih
sedih dari kak Ray. Akhirnya di senja itu, aku dan kak Ray meneteskan air mata
bersama tanpa tahu sebabnya.
Semenjak kejadian
itu, aku dan kak Ray kian jauh. Aku tidak tahu harus bagaimana. Kak Ray kian
pendiam lagi, lagi, dan lagi. Ia semakin sibuk pula dengan kejuaraan-kejuaraan
silat dan skripsinya. Aku sudah mulai jarang melihatnya di latihan biasa. Hatiku
mulai sesak dengan perasaan tidak jelas ini. Aku merasa di gantung, aku merasa
bodoh mencintainya. Namun mengingat kejadian senja itu, aku mengerti betapa
sedihnya kak Ray atas suatu kejadian. Kejadian yang sepertinya membuatnya sesak
juga hingga ia menangis. Aku tidak akan tega bertanya tentang apa yang
membuatnya menangis. Tapi di sisi lain aku juga ingin kejelasan perasaan kak
Ray terhadapku. Namun aku lebih memilih diam, biar waktu yang mengungkap
segalanya. Semoga.
***
Minggu depan
pertandingan kejuaraan nasional IPSI di Makasar akan segera dimulai. Perwakilan
dari kampusku sudah bersiap-siap akan berangkat. Aku tidak terpilih mewakili
kampus, padahal aku sudah mati-matian berlatih. Tak apa, mungkin masih bisa
ikut tahun depan. Aku mencari-cari seseorang diantara kerumunan teman-teman
yang akan berangkat.
“Zakia…” dan kini seseorang yang ku cari malah memanggilku, dia ada
di belakangku.
“Kak Rayhan…” kataku pelan sambil tersenyum. Kak Ray membalas
senyumku. Ini untuk pertama kalinya aku berbicara langsung dengannya semenjak
kejadian di senja itu. Kak Ray memberiku isyarat agar berbicara di tempat lain.
Aku mengikutinya ke taman kampus.
“Aku mau memberimu ini,” kak Ray menyerahkan sabuk merahnya
kepadaku. Aku menerimanya sambil tersenyum. “Untuk kenang-kenangan” katanya.
“Terimakasih..” kataku pelan sambil menahan jantung yang berdegup
kencang. Kak Ray mengangguk dan tersenyum. Hanya itu. Benarkah hanya untuk
memberi sabuk ini? Ternyata benar, ia sudah mulai balik badan akan meninggalkan
taman.
“Kak Ray bodoh!” teriakku saat ia akan menuruni tangga taman. Kak
Ray menghentikan langkahnya. Ia masih membelakangiku. Punggungnya yang lebar
itu tegap mematung. Aku tak tahu kenapa kata ‘bodoh’ keluar begitu saja dari
mulutku yang bodoh ini. Tapi aku memang sudah tak kuat diperlakukan seperti
ini.
“Aku sangat menyukai silat, aku selalu mati-matian dalam berlatih
silat. Aku ingin pandai silat seperti orang yang sangat ku kagumi dari dulu,
dan itu kamu, kak Ray!” aku menekan kata di akhir kalimat meski sangat berat
mengucapkannya. Aku mulai berkaca-kaca.
“Aku masuk silat karena melihat gerakan-gerakan indah dari kak Ray
saat di auditorium kala itu. Tak dapat di pungkiri bukan hanya gerakannya saja
yang indah, tapi kak Ray terlihat menyenangkan saat itu. Entah kenapa saat
masuk silat rasanya menyenangkan saja kalau melihat kak Ray. Melihat senyummu
aku bahagia kak, tapi melihat tangismu saat itu… aku ikut tersiksa…apa kak Ray
masih belum jelas melihat apa yang ada di mata ini saat memandangmu?” aku
mengucapkannya sambil menahan pedih. Rasanya sakit sekali meminta kejelasan
pada orang yang di sayangi dengan suasana tak mengenakkan seperti ini.
Kak Ray menoleh ke belakang sambil tersenyum. “Aku tahu perasaanmu,
aku juga pernah merasakan masuk silat karena seseorang yang ku cintai”. Kata
kak Ray, kemudian ia berlalu meninggalkanku.
***
Wangi tanah pekuburan menyeruak di hidung, aroma mawar melati
menemani di tiap sudutnya. Aku menaburkan bunga di atas pusara yang masih
basah.
Telah Pulang ke Rahmatullah
Rayhan Firdaus
Bin
Abdullah
Lahir: 30 Desember 1989
Wafat: 3 Oktober 2013
Siapa menyangka mobil yang akan membawa rombongan pesilat dari
kampus kami ternyata mengalami kecelakaan. Tiga orang tewas termasuk kak
Rayhan. Aku menggenggam erat sabuk pemberiannya kemarin. Menciumnya.
Mengusap-usapkannya ke wajahku. Aku menangis sedih. Kata-kata terakhirnya
tentang seseorang yang ia cintai terus terngiang di kepalaku.
Aku pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Mamah melihatku
dengan cemas, namun ia tak mengatakan apa-apa. Mamah tahu segalanya. Mamah
pasti tahu segalanya. Tiba-tiba aku merasa pusing. Pusing sekali sampai tak
terdengar apa-apa. Aku ambruk di halaman rumah. Aku melihat mamah berbicara
padaku dengan cemas tapi aku tidak mendengarnya. Ku lihat sabuk yang ku
genggam, dan…. Akhirnya aku tahu !
Sabuk merah itu menghantarkanku ke masa lalu. Masa dimana aku
selalu menjadi juara silat dalam kejuaraan. Banyak sekali piala dan piagam yang
ku raih sejak kecil.hingga suatu hari, saat SMA, seorang pria mendatangiku. Dia
memintaku untuk mengajarinya silat. Walaupun umurnya lebih tua dariku setahun,
ia tetap ingin diajari olehku. Akhirnya aku menjadi gurunya. Kami sering
latihan bersama di berbagai tempat, paling sering di halaman rumahku. Jadilah
ia muridku yang pintar. Gerakan-gerakannya lincah, indah dan bagus.
Hingga suatu hari, saat kami berlatih silat bersama teman-teman SMA
ku yang lainnya, dan mungkin saat itu memang sudah ditakdirkan kalau tempat
kami latihan di dekat bangunan perpustakaan yang sedang dibangun. Kayu balok
besar terjatuh dari ketinggian 6 meter, menghantam kepalaku. Darah bercucuran
di kepalaku, muridku sambil menangis melepaskan sabuk merahnya dan diikatkan ke
kepalaku. Ia dan beberapa teman mengerumuniku dan berteriak-teriak, namun aku
tak mendengarnya. Setelah itu gelap.
Terlalu rapihnya sandiwara semua orang membuatku hampir lupa akan
ingatanku yang sempat hilang. Keluargaku menyimpan semua piala dan piagam
kebanggaanku di kamar orangtuaku. Aku yang beberapa kali pernah menjadi juara
internasional tak menutup kemungkinan namaku dikenal banyak orang di dunia
silat. Mereka yang mengenalku, pelatih dan senior-seniorku pun ikut sempurna
menyembunyikan masa laluku. Kemudian muridku, orang yang ku kagumi saat
melihatnya di auditorium, karenanya aku masuk silat, karenanya aku mencuri-curi
pandang, menangis bersama di senja taman, ia yang memberiku sabuk tanpa
kejelasan… kini semua sudah jelas. Kak Rayhan lah yang paling pandai bersandiwara
di sini.
Semua yang menyembunyikan segalanya adalah orang yang paling
tersiksa hatinya. Karena tiap waktunya mereka harus berbohong denganku.
Orangtuaku yang ternyata menyimpan segalanya dikamar, tiap malam harus menangis
sambil menatap piala dan piagam penuh kebanggaan anaknya itu. Pelatih dan
senior lainnya yang selalu melatih dan menyemangatiku setelah selesai latihan
kadang tak percaya melihat sang juara kini tertatih-tatih berlatih dari awal.
Dan kak Rayhan, kini aku yang masih tak percaya. Ia yang ternyata dulu
mencintaiku mati-matian sampai ingin masuk silat, sampai rela menjadi murid, ia
rela menyandang status guru dan murid asalkan bisa berlatih dengan orang yang
ia cintai. Ternyata ia lah yang harus paling pandai menyembunyikan rasa sedih
tak terkiranya. Gurunya, gadis yang di cintainya telah hilang ingatan, dan kini
tak disangka masuk lagi ke kehidupannya di dunia silat. Ingin sekali mengatakan
perasaannya saat itu, tapi apalah daya, balok yang seharusnya mengenainya itu
kini membuatnya kian mati. Salah sasaran, mengenaiku. Saat tahu aku hilang
ingatan, ia mengubur dalam-dalam kenangan gurunya itu. Ia menjadi sangat diam.
Terkadang ia menangis selesai latihan silat mengingatku.
Muridku, pria yang ku cintai. Sampai meninggal pun masih tetap
bersandiwara.
Cerpen: Benteng
Aku
sudah berusaha sembunyi di sela-sela bangku reyot di kelas paling pojok
koridor. Nafasku terengah-engah tak karuan, aku berusaha menenangkannya. Ya
Tuhan, tubuhku bergetar hebat. Aku mengintip pelan, memperhatikan seisi ruang
kelas. Kemudian menatap pintu kelas yang terbuka. Ku tajamkan telingaku untuk
mendengar suara langkah kaki orang mendekat. Namun hanya angin yang terdengar.
Ah, syukurlah. Sepertinya tidak ada yang tahu aku berlari ke sini. Padahal tadi
saat aku masih bersama Sasha melarikan diri ke kebun belakang sekolah, dia
mengejar kami sangat cepat. Aku tahu dia pasti bisa menyusul kami. Dia sangat
cepat jika berlari. Ia berlari sambil memperlihatkan senyum menyeringai yang
sangat menakutkan. Senyum jahat tanpa suara itu yang membuatku kian berlari
kencang.
Aku dan sasha menusuri kebun sambil
teriak-teriak ketakutan. Sampai akhirnya kami berlari ke dalam sekolah lagi,
dia masih mengejar kami! Kami kian panik dan berlari tambah kencang dan tibalah
di ujung tangga ada pertigaan yang memisahkan kami. Aku belok kanan dan sasha
belok kiri. Aku berlari tak tentu arah. Tambah panik karena terpisah oleh
sasha. Hingga akhirnya aku tiba di ruang kelas paling pojok koridor yang
kosong. Di pojok kelas ada bangku-bangku reyot yang menumpuk. Aku bersembunyi
di baliknya. Menenangkan diri. Entah si pengejar pergi kemana. Mengejar aku
atau sasha. Tapi sepertinya tak mengejarku. Tak ada suara mencurigakan di
sekitar sini. Aku beruntung mendapatkan tempat persembunyian yang agak
menenangkan. Aku bersandar ditembok penuh debu serta banyak sarang laba-laba
tersebut. Memikirkan cara agar aku bisa keluar dengan selamat.
Tiga
menit berlalu, sepertinya aku berhasil tak ditemukan. Aku harus keluar dari
sini. Aku mengendap-endap ke pintu bak seorang detektif mengintai buruannya.
Mengintip sangat perlahan ke koridor sekolah yang sangat sepi. Yap, tak ada
orang. Aku berlari-lari kecil berusaha tanpa suara. Sambil terus menatap
sekitar. aku harus keluar dari gedung sekolah ini terlebih dahulu. Aku kembali
berlari-lari kecil menuju gerbang depan. Ah, gerbang depan sekolah kami sangat
jauh karena harus melewati lorong panjang tempat loker. Sedangkan aku masih ada
di dekat ruang UKS yang berada di dekat kebun sekolah. Jika mau ke gerbang
depan, harus melewati koridor sepanjang empat kelas dan satu koridor lagi
melewati perpustakaan dan laboratorium IPA untuk kemudian melewati lorong loker
yang panjang. Atau sebaiknya aku memutar arah lewat kebun belakang? Tapi itu
akan lebih jauh dari ini.
Akhirnya
setelah melakukan perhitungan resiko, aku memilih lewat koridor-koridor panjang
sekolah. Aku melirik sekitar. hanya ada kucing sedang lewat sambil memandangku
malas. Aku berlari-lari kecil tanpa suara lagi, melewati empat kelas. Ya, empat
kelas yang kurasa seperti setahun melewatinya, akhirnya telah ku lewati. Fuh,
aku menghela nafas di samping tempat sampah ujung koridor. Agak berdebar hatiku
melewati empat kelas tersebut, takut-takut di tengah jalan ada si dia. Aku
tersenyum agak lega karena sudah sampai sini. Selanjutnya melewati koridor
perpustakaan dan laboratorium. Aku berlari-lari kecil lagi tanpa bersuara.
Untuk beberapa detik kemudian aku mendengar jeritan yang ku kenal.
“Aaaaaaaaaaakhhhhhhhhhh……!!!!”
Tanpa
pikir panjang aku langsung masuk ruang laboratorium untuk sembunyi. Aku
langsung menuju kolong meja lab yang panjang. Ah bodoh! Ini adalah tempat
persembunyian yang basi. Pasti ketahuan dengan mudah. Aku tambah panik dan
menengok sekitar mencari tempat sembunyi yang tepat. Aku langsung pindah tempat
ke belakang lemari pipet. Syukurlah tubuh mungilku bisa beradaptasi dengan
celah sekecil itu. Kembali tubuhku bergetar hebat. Suara jeritan itu… suara
itu… itu adalah jeritan Sasha! Dia pasti tertangkap si pengejar. Jeritan tadi
berasal dari lantai dua. Ah, Sasha yang malang, jangan pernah bersembunyi di
lantai dua karena peluang untuk berlari hanya sedikit. Kau akan hanya
memikirkan dimana tangga atau kau loncat terjun ke bawah. Aku membayangkan
wajah ketakutan Sasha melihat dia, dia yang mengejar kami sambil senyum menyeringai
tanpa suara… bulu kudukku berdiri membayangkannya. Aku bergetar lagi. Sial, aku
jadi sangat ketakutan lagi. Padahal sudah setengah perjalanan koridor.
Aku
menggigiti kuku untuk menghilangkan rasa takut. Percuma, jari-jariku malah
gemetaran. Tambah gemetar lagi saat ku dengar langkah kaki kian mendekat ruang
laboratorium. Aku mengutuk diriku sendiri karena tak menutup kembali ruang lab.
Manalah mungkin terpikir menutup pintu saat sedang panik bersembunyi. Aku
mengintip di balik celah kecil samping lemari. Melihat kearah pintu. Siluet
seseorang berdiri di depan pintu terlihat…. Dan masuk! Sial! Dia masuk ruang
lab. Aku menahan nafas. Bagaimana ini? Aku terus menahan nafas takut suara
nafasku terdengar olehnya. Ku intip perlahan, siapa dia? Beberapa detik
kemudian aku tersadar bahwa sosok yang ku lihat bukan lah si pengejar, bukan si
pemilik senyum jahat tanpa suara itu, melainkan temannya! Ini tetap sial, dia pasti
juga mencariku karena Sasha sudah tertangkap.
Aku
sudah pasrah dengan keadaan. Orang itu terlihat sedang mencari-cari. Aku
menutup mata. Tamatlah sudah. Aku ingat masa-masa indah dengan teman-teman.
Bermain petak umpet, gobak sodor, kelereng, bĂȘte tujuh, petak jongkok, nenek
gerondong, menonton kartun hari minggu dari jam enam pagi sampai hampir dhuhur,
bermain tamiya, karet, gasing, game boy (read:jimbot), tamagoci, tiap seminggu
tiga kali bersorak-sorak gembira karena dapat susu sekolah, dll.
Kenangan-kenangan indah itu tiba-tiba saja terhujam dihati bagai belati
menancap. Susu sekolah yang sangat enak, beda dengan susu-susu yang lainnya,
yang di simpan di lab ini. Ah, tunggu dulu, aku baru ingat kalau susu-susu
sekolah itu, sumbangan dari luar negri itu di simpan di kulkas lab. Dan aku
baru sadar kalau si pengejar ternyata membuka kulkas dan mencari-cari apa yang
ada di pikiranku. Benar! Sambil tengok kanan kiri ia mengambil satu kotak susu
sekolah, kemudian langsung ia minum habis. Lalu berlari keluar lab meninggalkan
sampah kotak susu tersebut.
Syukurlah
ia hanya mau minum susu, itu sangat menguntungkanku. Aku kembali tegang dengan
suasana. Perlahan keluar lab, melongok kanan kiri, aman. Aku mengendap-endap
menuju lorong lorong loker. Mengendap… mengendap… beberapa detik berlalu dan
berhasil! Tinggal melewati lorong loker ini maka aku akan selamat dari dua
orang pengejar itu. Oke, aku akan berlari sekuat tenaga untuk sampai di gerbang
sekolah. Aku menarik nafas panjang dan…. Lari. Aku berlari melewati
lorong-lorong loker yang gelap dan panjang, ah, kali ini rasanya seperti dua
tahun untuk mencapai ujungnya. Baru setengah perjalanan dua orang mengejarku.
Oh tidak, mereka adalah pengejar si senyum jahat tanpa suara dan si peminum
susu. Aku ketakutan di kejar mereka dan lariku tambah kencang. Akhirnya,
setelah beberapa detik menakutkan itu berakhir juga. Aku sudah berada di luar
gerbang. Aku melihat ‘bentengku’ serta teman-temanku, sedangkan kulihat di
‘benteng’ musuh ada musuh-musuh serta Sasha yang tertangkap. Teman-teman
menyoraki aku memberi semangat agar sampai ke benteng, tapi terlambat, kawan.
Aku tak tahu kalau salah satu musuhku, yakni temannya si senyum jahat tanpa
suara dan si peminum susu, ada di belakangku, menepuk pundaku sambil bilang
“Kenaaa!!!”.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
PERMAINAN
BENTENG
Permainan
benteng dimainkan 6 orang atau lebih, semakin banyak orang, akan semakin seru.
Dibagi menjadi dua kelompok. Benteng kami dan benteng musuh. Terkadang benteng
berupa tiang listrik atau tiang lainnya. Tiap benteng akan berusaha mengambil
prajurit musuh satu persatu dengan cara menyentuhnya. Terkadang prajurit harus
memancing musuh untuk mengejarnya, karena itu bisa menguntungkan, pertahanan
musuh akan lebih longgar. Siapa yang bisa menyentuh benteng musuh, kelompok
merekalah pemenangnya. Dan untuk tawanan, ia akan berpegangan pada benteng dan
menjulurkan tangan, jika kita berhasil memegang tangan teman kita yang menjadi
tawanan, itu sama saja dengan menyentuh benteng (menang).
Era 90-an permainan
ini masih banyak di mainkan oleh anak-anak SD. Euforia saat memainkan permainan
ini tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Maka terciplah cerpen ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
